Tempat Wisata Pra Sejarah Di Kab. Tegal

Kabupaten Tegal merupakan suatu daerah yang memiliki perjalanan sejarah yang panjang, sehingga menciptakan suatu kebudayaan yang hingga kini tetap terjaga dan terpelihara keasliannya. Simbol sebagai kota yang bersejarah bukanlah sekedar ucapan semata, melainkan terbukti dengan keberadaan warisan cagar budaya yang menunjukkan jati diri Kabupaten Tegal. Pengenalan sejarah merupakan kenyataan manusiawi yang dapat ditelusuri sejak perkembangan manusia yang paling dini, sejauh masa itu meninggalkan jejak-jejaknya dalam suatu perwujudan tertentu. Dari goresan berupa tulisan atau lukisan sampai dengan jejak berupa dokumen atau monumen yang merupakan bukti nyata manusia pada suatu masa.

Kenyataan masa lampau dapat dilihat dari benda benda atau koleksi benda-benda yang masih tersimpan sampai saat ini. Keberadaannya membawa makna nyata terutama untuk menyingkap setiap peristiwa pada masa lampau sekaligus sebagai ukuran untuk melihat ketinggian martabat suatu bangsa.

Setelah 24 tahun Tegal memiliki Ibukota sendiri. Periode dua dekade bukan waktu yang singkat. Namun pencapaian yang telah diperoleh juga belum cukup memuaskan, bayang-bayang Kabupaten Tegal secara sederhana lahir karena kesamaan nama daerah.  

Tegal merupakan salah satu daerah di Jawa Tengah yang mempunyai beberapa peninggalan sejarah yang dapat dimanfaatkan untuk sumber belajar. Khususnya di Kabupaten Tegal ada beberapa tempat yang bisa dijadikan sumber pembelajaran sejarah. Tempat tersebut yaitu seperti Makam Raja Mataram KS Hamangkurat Agung Tegal Arum, Pabrik Gula Pangkah yang dibangun sejak masa penjajahan Belanda, dan sebuah situs sejarah yaitu Situs purbakala Semedo yang berada di desa Semedo Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Tegal. Dalam penelitian ini penulis memilih salah satu dari peninggalan sejarah yang ada di Kabupaten Tegal, yaitu Situs Semedo yang saat ini sedang banyak dibicarakan. Di bukit desa Semedo ditemukan beberapa fosil purbakala seperti gading gajah dan fosil kerang laut. Penemuan tersebut kemudian dikumpulkan dan disimpan agar dapat dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Tegal.

 Situs – situs sejarah selain sebagai tempat rekreasi tetapi juga dapat digunakan sebagai sumber belajar. Dari situs-situs sejarah tersebut dapat dilihat bahwa didalamnya terkandung unsur pendidikan, ilmu pegetahuan, kesenian, dan juga sebagai warisan budaya.

Belajar sejarah dengan memanfaatkan sebuah situs sejarah pasti akan lebih menarik perhatian siswa karena dengan mengunjungi atau melihat situs tersebut siswa dapat melihat sendiri secara langsung peninggalan pada jaman purbakala, tidak hanya melihat dari buku saja, walaupun buku panduan sekarang dibuat lebih menarik akan tetapi dengan mendatangi situs secara langsung dapat menarik perhatian siswa dan keingintahuan siswa mengenai jaman purbakala. Selain itu dengan mengadakan pembelajaran di luar kelas dimaksudkan juga agar siswa tidak merasa bosan dan mendapatkan pengalaman dari pembelajaran yang dilakukan diluar kelas. Potensi yang tersimpan di desa Semedo khususnya di situs Semedo dalam mendukung pembelajaran melalui pengamatan serta penelitian patut dimanfaatkan oleh sekolah-sekolah khususnya sekolah dilingkungan daerah Kabupaten Tegal.

Gambar 1. Museum Situs Semedo

Semedo merupakan desa di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal yang berbatasan langsung dengan Desa Sigentong (sebelah utara), Desa Sidamulya (sebelah timur), Hutan Semedo (sebelah selatan) dan Desa Karang Malang (sebelah barat). Mata pencaharian warganya masih mengutamakan pertanian, sebagian lagi merantau keluar kota. Tingkat pendidikan warganya  masih dibilang rendah, karena hanya sedikit saja yang bisa menjangkau perguruan tinggi.

Situs Semedo terletak di jajaran Pegunungan Serayu Utara, berbatasan dengan dataran aluvial pantai utara Tegal, sekitar 15 kilometer sebelah timur Slawi, perbukitan bergelombang dengan lapisan tanah yang terdiri dari kerikil, pasir dan kapur adalah ciri morfologinya. Tidak sama dengan situs sejenis yang menyebar di Jawa Tengah bagian timur dan juga Jawa Timur. Situs ini justru terletak diujung barat-utara Jawa Tengah. Luas situs menunjukkan daerah yang cukup luas, yaitu berukuran 3×3 kilometer persegi. Letaknya berada disebelah barat daya Desa Semedo, diarea terbuka berupa tegalan pohon jati,antara pertengahan desa dan Gunung Semedo. Kawasan Situs Semedo berada diwilayah hutan Perum Perhutani di petak 27 E RPH Dukuh Taban BKPH Kedungjati KPH Pemalang

  1. Asal-usul Situs Semedo

Situs Semedo ini merupakan situs manusia purba yang paling akhir ditemukan. Situs ini telah memberikan data tentang evolusi manusia, budaya, dan lingkungannya sejak 1,5 juta tahun yang lalu. Situs ini telah memberikan pemahaman baru tentang persebaran Homo Erectus di Pulau Jawa, dimana sisa-sisa fosil manusia purba ini telah ditemukan pada bulan Mei 2011. Itu menunjukkan bahwa mereka juga telah melangkahkan kaki di ujung barat Jawa Tengah, terpisah dari saudara-saudara mereka yang ada di Sangiran.

Jajaran Pegunungan Serayu merupakan daerah batas dengan Jajaran Bogor di Jawa Barat. Pada zaman Pleistosen daerah ini telah terdorong keatas oleh gerakan Geosinklinal Pulau Jawa bagian utara, yang setelah melewati Kala Pleistosen Bawah sekitar 1,8 juta tahun yang lalu, tertutup endapan vulkanik. Terdapat kemungkinan, bahwa bersama dengan Cijulang, Prupuk, Bumiayu, dan Ajibarang daerah penemuan fosil di Desa Semedo merupakan batas Pulau Jawa bagian timur pada akhir Kala Pliosen, ketika Jawa Tengah dan Jawa Barat masih berada dibawah laut pada sekitar 2,4 juta tahun yang lalu.

  1. Perintis Situs Semedo

Situs Semedo tidak akan pernah terdengar jika tidak diperjuangkan dengan kerja keras oleh Bapak Dakri, beliau adalah penduduk setempat yang pertama kali menemukan fosil-fosil Vertebrata di situs ini pada bulan Juni 2005. Temuan tersebut kemudian ditindak lanjuti oleh Bapak Bambang Purnama dan Slamet Heriyanto dari LSM Mataram, dan disampaikan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal. Merekalah sang pelopor penemuan fosil, yang kemudian disampaikan kepada khayalak ramai melalui media cetak dan elektronik. Para pakar dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran maupun Balai Arkeologi Yogyakarta serta berbagai institusi pendidikan kemudian mengadakan penelitian secara intensif hingga saat ini.

Bapak Dakri elah mendapatkan piagam dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Sragen karena atas jasanya melestarikan Situs Semedo. Beliau juga ditunjuk sebagai Petugas Pengaman Situs Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Tegal.

  1. Koleksi Benda-Benda Purbakala

Situs Semedo menyimpan berbagai kekayaan budaya pada masa purbakala.Hampir ratusan fosil hewan purba telah ditemukan di Cagar Budaya Semedo itu. Bukit Semedo yang tingginya mencapai 140 meter diatas permukaan laut tersebut menyimpan misteri kehidupan manusia purba hampir seperti di Sangiran yang terkenal sebagai cagar budaya manusia.

Dari bukit itu ditemukan fosil hewan purba dengan ukuran raksasa. Dari mulai gajah, babi hutan, harimau, singa, ikan hiu, kuda nil, badak dan hewan purba lainnya. Fosil hewan-hewan itu ditemukan oleh warga sekitar yang dipelopori oleh Bapak Dakri.

Fosil hewan purba yang ditemukan di Semedo ditemukan secara terpencar diseluruh permukaan situs. Sebagian besar berupa fragmen tulang panjang, diantaranya disertai pula dengan fragmen tengkorak beserta rahang dan gigi geliginya, dan juga beberapa tulang rusuk. Tingkat fosilisasi sudah sangat sempurna, dengan mineral silika yang telah lanjut menggantikan unsur-unsur organiknya, sehingga menjadi berat dan keras. Selain itu, tulang juga telah banyak berubah warna menjadi kehitaman.

Berikut adalah daftar benda-benda purbakala yang terdapat di Situs Semedo:

  1. Fosil Fauna Darat
  2. Stegodon trigonocephallus

Sisa Gajah purba Stegodon terdiri atas fragmen gading, fragmen gigi geraham, fragmen tulang lengan, fragmen tulang paha dan tulang iga.

  1. Mastodon sp.

Ditemukan terakhir sekitar tahun 2008 lalu, gigi-geliginya.

  1. Elephas sp.

Ditemukan diberbagai tempat, yang kebanyakan ditemukan fragmen giginya.

Stegodon, Mastadon dan Elephas adalah tiga jenis gajah purba nenek moyang gajah Sumatra yang telah hidup di Semedo sejak 1,5 tahun yang lalu. 

  1. Bovidae (sapi, kerbau, banteng)

Terdiri dari fragmen gigi dan pecahan tanduk.

  1. Rhinoceros sp. (badak)

Terdiri dari fragmen gigi.

  1. Suidae (babi)

Terdiri dari fragmen gigi.

  1. Cervidae (sejenis rusa)

Terdiri dari fragmen gigi dan pecahan tanduk.

  1. Hippopotamus (kuda air)

Terdiri dari fragmen gigi geraham dan gigi taring.

  1. Fosil Fauna Perairan
  2. Crocodyllus sp. (buaya)

Terdiri dari fragmen rahang dan gigi geliginya.

  1. Tryonix sp. (penyu laut)
  2. Galeocerdo sp. Dan Carcharodon sp. (hiu laut)

Terdiri dari fragmen gigi.

  1. Moluska (kerang-kerangan)
  2. Gastropoda (keong)
  3. Pelecypoda (kerang setangkup)
  1. Endapan-endapan lempung, dari jenis Murex sp., Turritella sp., dan Antogona claratha.
  2. Pecahan-pecahan koral (Anodara sp.)

Untuk pecahan koral sendiri sangat mudah ditemukan di wilayah situs sebagian besar dalam bentuk koral berwarna merah kecoklatan atau kekuningan.

  1. Alat-alat batu (artefak)

Alat-alat batu Semedo mulai ditemukan sejak tahun 2007, hingga kini sudah terkumpul kurang lebih 300 artefak. Artefak yang ditemukan ini berukuran sebesar genggaman tangan dan alat-alat berukuran kecil, dengan jenis-jenis alat batu seperti kapak penetak (chopping tools), kapak perimbas (chopper), batu inti (core), alat serpih (flake), dan serut (scrapper).

  1. Fosil manusia purba Homo Erectus

Fosil manusia purba Homo Erectus di Situs Semedo ditemukan setelah lebih dari setengah tahun diteliti oleh tim ahli dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran. Fosil yang ditemukan itu berupa kepingan-kepingan bagian tengkorak kepala, seperti tulang tengkorak bagian belakang serta sepasang tulang tengkorak dibelakang dahi dan tulang pertautannya. Selain itu, ditemukan juga tulang berbentuk cekungan  tempat melekatnya otak belakang. Fosil itu ditemukan Bapak Dakri disebuah anak Sungai Kawi.

  1. Usia Fauna Semedo

Penemuan fosil-fosil binatang di daerah Kabupaten Tegal ini merupakan temuan menarik karena daerah Tegal termasuk dalam daerah perbatasan dari persebaran fauna yang dapat dimasukkan sebagai bagian dari zona Bumiayu dan Ajibarang sebagai salah satu daerah temuan fauna vertebrata yang cukup tua. Jika dilihat dari pembentukkan Pulau Jawa yang sangat bergantung pada gerakan lempeng tektonik, erupsi gunung berapi, dan gerak permukaan air laut, maka dapat dikatakan bahwa Jawa Barat merupakan bagian Pulau Jawa yang sudah berada di permukaan laut.Pada saat itu Jawa Tengah dan Jawa Timur masih berada dibawah permukaan laut. Sekilas jenis-jenis binatang yang ditemukan di Situs Semedo tersebut merupakan jenis khas yang hidup di hutan terbuka pada sekitar 1 juta tahun yang lalu.

Jenis Stegodon sudah muncul pada Fauna Trinil dan hadir terakhir kali pada Fauna Ngandong sekitar 400.000 tahun, sementara jenis Rhinoceros, Suidae, dan Cervidae hampir ditemukan diberbagai kelompok fauna lainnya. Dalam hal ini, jajaran Kedung Banteng, Bumiayu, dan Ajibarang merupakan daerah tertua setelah Cisaat ataupun Satir yang merupakan fauna tertua, mencapai setidaknya 1,5 juta tahun. Akan tetapi dengan ditemukannya jenis Mastadon sp. pada fauna Semedo ini, membuat usia fauna Semedo semakin tua 1,5 juta tahun lalu. Sehingga usia fauna Semedo dapat disejajarkan dengan fauna-fauna tua yang berada di Cisaat ataupun Satir.

E. Perhatian Pemerintah Lokal

Fosil-fosil yang ditemukan 2005 telah dibawa ke Museum Sekolah Slawi. Berupa fosil babi hutan, rusa, kijang, harimau, singa, gajah, ikan hiu, kuda nil, badak, dan hewan purba lainnya. Namun, fosil yang ditemukan  saat itu sempat tertahan beberapa tahun berada di rumah Bapak Dakri. Pada saat itu belum banyak masyarakat yang mengetahui keberadaan fosil – fosil tersebut.

 Bapak Dakri mengungkapkan bahwa sementara ini  pihaknya tidak berani melaporkan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tegal sebelum melaporkannya sendiri ke Sangiran, karena memang untuk melaporkan temuan tersebut kepada Dinas terkait, bapak Dakri seolah dipersulit dengan persyaratan-persyaratan yang rumit, awalnya Pemerintah Kabupaten Tegal, memang seolah acuh, namun pada akhirnya dengan bantuan sebuah LSM lokal, penemuan fosil – fosil tersebut dapat terungkap lebih lanjut hingga dijadikan sebagai objek penelitian oleh arkeolog dari berbagai institusi di Indonesia. Bahkan baru-baru ini terdapat arkeolog asal Perancis yang melakukan penelitian disana yang mengambil spesialisasi vertebrata mamalia purba. Sehingga disana sekarang sudah berdiri dengan megah sebuah Museum fosil – fosil purbakala yang diberi nama “Museum Situs Semedo”.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari data-data yang penulis dapatkan maka dapat disimpulkan bahwa :

  1. Museum Situs Semedo merupakan situs manusia purba yang paling akhir ditemukan dan telah memberikan pemahaman baru tentang persebaran Homo Erectus di Pulau Jawa, keberadaan fosil Homo Erectus di Semedo menunjukkan bahwa manusia purba itu telah melangkahkan kaki diujung barat Jawa Tengah.
  2. Keberadaan Situs Semedo tidak terlepas dari perjuangan Bapak Dakri yang dengan giat dan ulet mengumpulkan berbagai fosil dan artefak yang ditemukannya di bukit Semedo. Sehingga dari bukit Semedo itu terkumpul fosil hewan purba dengan ukuran raksasa. Dari mulai gajah, babi hutan, rusa, harimau, singa, ikan hiu, kuda nil, badak, dan hewan purba lainnya.
  3. Fosil hewan purba yang ditemukan di Situs Semedo sebagian besar berupa fragmen tulang panjang, diantaranya disertai pula dengan fragmen tengkorak beserta rahang dan gigi geliginya, dan juga beberapa tulang rusuk.
  4. Dengan ditemukannya jenis Mastadon sp. pada Situs Semedo ini, menunjukkan usia fauna Semedo sekitar 1,5 juta tahun lalu. Sehingga usia fauna Semedo dapat disejajarkan dengan fauna-fauna tua yang berada di Cisaat ataupun Satir.
  1. Saran 

Situs Semedo merupakan situs peninggalan purbakala yang memiliki nilai historis yang tinggi. Oleh karena itu, sudah seharusnya Pemerintah Kabupaten, masyarakat, generasi muda turut berpartisipasi untuk berperan serta dalam menjaga dan melestarikan situs – situs bersejarah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 1991. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Hamalik, Oemar. 2007. Implementasi Kurikulum. Bandung: Yayasan Al-Madani Terpadu Rosdakarya.

Munir. 2008. Kurikulum berbasi Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: CV. Alfabeta

Surachmad, Winarno. 1984. Dasar-dasar teknik Research: Pengantar Metodologi Ilmiah. Bandung: Tarsito 

Suryabrata, Sumadi. 1968. Psikologi Kepribadian. Jakarta: CV. Rajawali

http://www.pab-indonesia.com

http://www.wikipedia.com

http://awan965.wordpress.com

http://ridwanaz.com//umum/alam/pengertian-fosil-pembentukan-fosil-waktu-geologgis/

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/04/15/sumber-belajar-untuk-mengefektifkan-pembelajaran-siswa/

http://profdrerwinalmwdatusarakalc.blogspot.com/2011/11/pengertian-dan-tujuan-arkeologi.html

http://www.scribd.com/

http://belalangtue.wordpress.com/2010/11/22/pengertian-sumber-belajar/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: