Nyatanya
belajar itu sangatlah membosankan. Ayahku jaksa ibuku reporter sedangkan kakak
perempuanku mengambil jurusan hukum. Oleh sebab itu orang tuaku menyekolahkan
ku disekolah elit dan menyewa guru privat agar aku lebih giat belajar. Bahkan
mereka tidak tau apakah aku menyukainya atau tidak.
Hanya satu
hal yang aku sukai mengarang dan menggambar. Tapi aku tidak pernah cerita
kepada orang tua dan kakakku, jika aku menyukai hal lain dari pada harus
belajar dan menghapal hal-hal yang tak kusukai. Seperti saat ini aku sedang
bingung di sekolahku ada event untuk siswa yang berminat menjadi penulis atau
pengarang. Ingin sekali aku mengikuti event itu tapi apalah daya karna event
itu akan dimulai pada tanggal 27 sampai 29 Juli dan saat itu juga aku harus
mengikuti lomba cerdas cermat. Ya memang sih aku tidak terlalu menyukai belajar
tapi otak ku masih biasa menanggapinya jika tidak mana mungkin sekolah
mendaftarkanku ikut cerdas cermat.
Pernah sekali aku ketahuan ibuku mengikuti lomba menggambar dan aku langsung
dimarahi katanya buang-buang waktu. Makanya untuk meminta ikut lomba saja tidak
boleh apa lagi event seperti ini bias-bisa digiling aku. Terkadang aku iri
dengan temanku Rara dia biasa melakukan apa yang dia mau. Seperti sekarang dia
sangat antusias untuk mengikuti event itu. Brosur tadi saja aku dapat dari dia.
Hanya dia yang tau jika aku ingin menjadi penulis.
“Dian”
Karana merasa terpanggil aku menengok dan ternyata yang tadi memanggilku itu
Rara. Aku tau pasti dia ingin membujukku untuk ikut event itu tebakku.
“Ada apa?”
“Kamu nggak
mau ikut event ini?” Benarkan tebakanku.
“Enggak,
lagian eventnya pas ada lomba cerdas cermat sebenarnya aku pengen banget ikut
event itu tapi ngomong sama orang tuaku aja aku gak berani”
“Hah kenapa
sih kamu gak biasa bilang sekali aja sama orang tuamu, apa perlu aku yang
ngizinin?”
“Eh? Enggak
usah ra lagian percuma pasti gak dibolehin”
“Terserah
kamu deh” Setelah itu Rara pergi. Aku tau pasti Rara marah bukan salahnya sih
karna aku pernah janji untuk lebih berani ngomong lagi terhadap orang tuaku
kalau ada lomba atau event seperti ini. Dasar bodoh sudah tau masa depanku itu
bukan menjadi penulis tetapi menjadi apa yang orang tuaku mau. Terkadang aku
terasa terkekang untuk melakukan hal-hal yang kusukai karna orang tuaku tapi
mau bagaimana lagi? Memang begini kan yang seharusnya terjadi menuruti mau
orang tua dan melupakan impian terbesarku.
“Hahh
akhirnya selesai… emm apa tidak apa-apa yah jika akhirnya begini?”
“Hm? Gak
apa-apa kali kita kan mau ceritaiin soal anak yang broken home”
“Tapi kalo
dipikir-pikir ‘Dian’ dicerita ini kaya kamu din”
“Hehehe
emang aku sengaja”
“Pantes
kaya familiar gitu sama cerita ini. Eh ngomong-ngomong aku jadi ke inget dulu
bedanya sama cerita ini kamu ngeberaniin diri buat ngomong sama orang tua kamu”
“Iya,
untung aku ngeberaniin buat ngomong sama orang tua aku waktu itu. Kalo enggak
mana mungkin aku bias kaya gini bareng kamu ra”
“Iya yah”
Sebenar nya
waktu itu aku ngomong sama ayahku kalau aku gak mau ikut cerdas cermat dan aku ingin
menjadi penulis. Untung ayah paham jadi aku dibolehin ikut event dan lomba
cerdas cermatku digantikan sama Linda yang memang suka ikut lomba tapi tidak
terpilih.
Jadi…raihlah
impianmu dan katakan jika kau tidak menyukai dengan apa yang mereka pikir baik
untukmu. Tidak semua yang orang tua pikirkan itu baik untuk anaknya. Karna
belum tentu anak mereka suka dengan itu.