Pantun

Ayahku seorang petani
Punya sawah punya ladang
Mari belajar hari ini
Agar masa depan lebih gemilang

Pergi memancing saat fajar
Pulang siang membawa ikan
Siapa yang rajin belajar
Jadi orang sukses kemudian

Cepat bergegas untuk bertemu
Bertemu sambil membawa gulali
Kaya harta miskin ilmu
Tentulah merugi sama sekali

Janganlah tunggu daun yang lebat
Untuk melihat sebuah dahan
Janganlah tunggu ajal mendekat
Untuk bertobat kepada Tuhan

Dari kecil menanam biji
Saat besar jadi pohonan
Sejak kecil rajin mengaji
Makin teguhlah dalam beriman

Pisau tak akan tajam selalu
Karena itu ia diasah
Tuhan tak akan meninggalkanmu
Disaat engkau kena masalah

Asam kandis asam jawa
Satu peti dalam kereta
Walau nenak sudah tua
Hati atuk tetap cinta

Sudah malam nyalakan lampu
Buku di lemari acak-acakan
Katanya kelas sudah disapu
Kenapa sampahnya masih berserakan

Ranting tua mudah patah
Badan sakit minumlah jamu
Ayo kita bersih-bersih sekolah
Sebersih cintaku kepadamu


KATA BIJAK

  • Sehari selembar benang, lama-lama jadilah selembar kain.
  • Berpikir dulu sebelum berbicara.
  • Bermimpilah dalam hidup, jangan hidup dalam mimpi.
  • Masalah itu mendewasakan
  • Hilangkan egomu, karena hidup tak tentang kebahagiaanmu bersama orang lain.
  • Uang memang, tak menjamin kebahagiaan seseorang. Tapi kalau tak punya uang, kebahagiaanmu tak terjamin lagi.
  • Jangan mau jadi katak yang dalam tempurung, takut dan tidak mau menunjukkan dirinya.
  • Kebencian adalah penyakit yang akan mematikan kebaikan.
  • Sebelum jadi kupu-kupu yang indah, berapa banyak waktu yang harus dilaluinya dalam kepompong.
  • Lebih indah hidup sederhana tapi apa adanya daripada hidup mewah dengan hutan dimana-mana
  • Jika kehidupan membua diri menangis. Ingat ada ribuan kenangan indah yang membuat kita tersenyum.
  • Hal terindah dalam hidup adalah melihat senyum diwajah orang tuamu, dan menyadari kamulah alasannya.
  • Tidak semua hal tinggal selamanya dihidupmu. Karena mereka dating sebagai pelajaran hidup, untuk mengajarimu arti waktu.
  • Dunia ini berisi orang baik jika kau tidak bias menemukan satupun, jadilah orang baik itu.
  • Jika bunga belajar untuk bersemi kembali setelah musim dingin, kamu juga bisa.
  • Apapun yang hilang bukanlah milikmu.
  • Yang dating pasti lebih baik dari pada yang telah hilang.

BROKEN HOME

Nyatanya belajar itu sangatlah membosankan. Ayahku jaksa ibuku reporter sedangkan kakak perempuanku mengambil jurusan hukum. Oleh sebab itu orang tuaku menyekolahkan ku disekolah elit dan menyewa guru privat agar aku lebih giat belajar. Bahkan mereka tidak tau apakah aku menyukainya atau tidak.

Hanya satu hal yang aku sukai mengarang dan menggambar. Tapi aku tidak pernah cerita kepada orang tua dan kakakku, jika aku menyukai hal lain dari pada harus belajar dan menghapal hal-hal yang tak kusukai. Seperti saat ini aku sedang bingung di sekolahku ada event untuk siswa yang berminat menjadi penulis atau pengarang. Ingin sekali aku mengikuti event itu tapi apalah daya karna event itu akan dimulai pada tanggal 27 sampai 29 Juli dan saat itu juga aku harus mengikuti lomba cerdas cermat. Ya memang sih aku tidak terlalu menyukai belajar tapi otak ku masih biasa menanggapinya jika tidak mana mungkin sekolah mendaftarkanku  ikut cerdas cermat. Pernah sekali aku ketahuan ibuku mengikuti lomba menggambar dan aku langsung dimarahi katanya buang-buang waktu. Makanya untuk meminta ikut lomba saja tidak boleh apa lagi event seperti ini bias-bisa digiling aku. Terkadang aku iri dengan temanku Rara dia biasa melakukan apa yang dia mau. Seperti sekarang dia sangat antusias untuk mengikuti event itu. Brosur tadi saja aku dapat dari dia. Hanya dia yang tau jika aku ingin menjadi penulis.

“Dian” Karana merasa terpanggil aku menengok dan ternyata yang tadi memanggilku itu Rara. Aku tau pasti dia ingin membujukku untuk ikut event itu tebakku.

“Ada apa?”

“Kamu nggak mau ikut event ini?” Benarkan tebakanku.

“Enggak, lagian eventnya pas ada lomba cerdas cermat sebenarnya aku pengen banget ikut event itu tapi ngomong sama orang tuaku aja aku gak berani”

“Hah kenapa sih kamu gak biasa bilang sekali aja sama orang tuamu, apa perlu aku yang ngizinin?”

“Eh? Enggak usah ra lagian percuma pasti gak dibolehin”

“Terserah kamu deh” Setelah itu Rara pergi. Aku tau pasti Rara marah bukan salahnya sih karna aku pernah janji untuk lebih berani ngomong lagi terhadap orang tuaku kalau ada lomba atau event seperti ini. Dasar bodoh sudah tau masa depanku itu bukan menjadi penulis tetapi menjadi apa yang orang tuaku mau. Terkadang aku terasa terkekang untuk melakukan hal-hal yang kusukai karna orang tuaku tapi mau bagaimana lagi? Memang begini kan yang seharusnya terjadi menuruti mau orang tua dan melupakan impian terbesarku.

“Hahh akhirnya selesai… emm apa tidak apa-apa yah jika akhirnya begini?”

“Hm? Gak apa-apa kali kita kan mau ceritaiin soal anak yang broken home”

“Tapi kalo dipikir-pikir ‘Dian’ dicerita ini kaya kamu din”

“Hehehe emang aku sengaja”

“Pantes kaya familiar gitu sama cerita ini. Eh ngomong-ngomong aku jadi ke inget dulu bedanya sama cerita ini kamu ngeberaniin diri buat ngomong sama orang tua kamu”

“Iya, untung aku ngeberaniin buat ngomong sama orang tua aku waktu itu. Kalo enggak mana mungkin aku bias kaya gini bareng kamu ra”

“Iya yah”

Sebenar nya waktu itu aku ngomong sama ayahku kalau aku gak mau ikut cerdas cermat dan aku ingin menjadi penulis. Untung ayah paham jadi aku dibolehin ikut event dan lomba cerdas cermatku digantikan sama Linda yang memang suka ikut lomba tapi tidak terpilih.

Jadi…raihlah impianmu dan katakan jika kau tidak menyukai dengan apa yang mereka pikir baik untukmu. Tidak semua yang orang tua pikirkan itu baik untuk anaknya. Karna belum tentu anak mereka suka dengan itu.

EMAN NJERONE KARO NJABANE

Pas awan sing terang, ana wong loro arane Rara karo Tina lagi ngerjakena tugas sekolah neng umah Rara. Sekabehane pada ngerjakna serius karo suasana sing tenang. Terus,ana wong wadon sing ora lia kancane dewek arane Sinta. Tapi, Rara kayong ora peduli ana Sinta neng kono.

‘’Ra, neng  ngarep ana Sinta lagi nggoleti kowen cepetan diparani.Wis awit mau nonggoni kowen neng kono.’’    Ngomong Tina sing lagi ngerjakma tugas neng umahe Rara.

‘’Bi,ngomongna neng Sinta simh ana neng ngarep umahe kari nyong lagi lunga neng ndi mbuh laka ngonong yaa.’’ Ngomong Rara neng Bibi sing kerja dadi pembantu neng kono.

‘’ Iyaa, Non. tak omongna.’’

‘‘Ra, sane kowen kaya kue karo Sinta. Kae pasti ws adoh-adoh maring kowen. Bisane kowen ngusir. Ora enak oh yaa. Melasi ohh. Kae ya anake eman Ra.’’ Ngomong Tina sing lagi nasehati Rara.

‘’Sing njabane eman, karo manis. Tapi loken kowen ngukur sifate wong kur kaya kue tok . Kae manis neng njaba tapi neng njaba pait kaya kopi ora di gulani.’’ Jawabe Rara stengah rai sinis.

‘’Pahit kepimen Ra?’’ ngomonge Tina karo takon.

‘’Kae sering ngomongi kekurangane wong lia. Neng mburi sering ngomongi kancane dewek. Pokoke akeh sing ora  bisa dijelasna Tin. Dileng awake kowen dewek. Kowen judes, ceeplas-ceplos karo nyong. Tapi, seorane kowen ndue ati tulus Tin. Dudu kanca sing njabane apik tapi njerone busuk. Kari kancanan, nyong ora butuh penampilan njabane wong Tin.’’ Jelas Rara neng Tina.

INDONESIA

“Indonesia…

Negara nan indah permai

Berbagai banyak pulau di dalamnya

Serta bahasa yang beragam dari setiap sukunya

Tanah airku yang aman dan makmur

Yang mempunyai laut yang sangat luas

Indonesia tercinta….

Kau sungguh indah di mata orang

Begitu juga di mataku

Indonesia kau benar-benar aku cinta…”

BUKU

“Kau adalah jendala ilmu

Kau berisi materi apa yang kubutuhkan

Kau menuntunku untuk menggapai citaku

Kau adalah benda yang kubutuhkan

Dalam bidang pendidikanku

Semua pasti membutuhkanmu

Terima kasih buku

Kau telah mengajariku…”

SAHABAT

“Kaulah teman sejatiku

Disaat kususah maupun senang                                                                                                                                                                                         

Kau selalu ada untukku

Ibarat mentari yang menyinari bumi

Tanpamu aku akan kesepian

Aku tak ingin kau bersedih

Bila nanti kita berpisah

Aku mohon jangan kau lupakan

Janganlah kau pergi begitu saja tanpa kabar

Karena ku masih membutuhkan mu

Terima kasih sahabat

Kau tak akan ku lupakan…”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai